-->

Dari Pesantren Menuju Peradaban Menjadikan Dakwah sebagai Kompas Politik: Belajar dari Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi dan Abuya Muda Waly

Post a Comment

Peradaban tidak lahir dari gedung-gedung yang megah, tidak pula dari pidato-pidato yang lantang. Peradaban lahir ketika manusia dibentuk oleh ilmu, disempurnakan dengan akhlak, lalu mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan. Karena itu, sejarah membuktikan bahwa setiap kebangkitan umat selalu diawali oleh lahirnya manusia-manusia yang berilmu sebelum lahirnya pemimpin-pemimpin yang berkuasa.


Di dunia Islam, pesantren dan dayah bukan sekadar tempat belajar membaca kitab. Di sanalah karakter ditempa, adab didahulukan sebelum ilmu, dan keikhlasan dibiasakan sebelum kepemimpinan. Pesantren tidak hanya melahirkan ahli fikih, ahli tafsir, atau pendakwah, tetapi juga melahirkan manusia yang siap memikul amanah di mana pun mereka berada. Dari ruang-ruang sederhana itulah benih-benih peradaban tumbuh.


Ketika seorang santri memasuki ruang publik, ia tidak membawa nama dirinya semata. Ia membawa tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama. Sebab itu, ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa kuat nilai-nilai pesantren tetap hidup dalam dirinya. Politik, ekonomi, pendidikan, maupun bidang lainnya hanyalah ruang pengabdian. Yang paling utama adalah tetap menjaga amanah ilmu dan akhlak.


Gagasan inilah yang tampak dalam pemikiran Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi. Beliau mengingatkan bahwa perubahan umat tidak dimulai dari perebutan kekuasaan, melainkan dari pembinaan manusia. Dakwah harus melahirkan pribadi-pribadi yang jujur, amanah, dan bertakwa. Dari manusia-manusia seperti itulah akan lahir politik yang adil dan pemerintahan yang membawa kemaslahatan.


Pandangan tersebut menemukan cerminnya dalam tradisi ulama Nusantara, khususnya melalui keteladanan Abuya Muda Waly. Beliau tidak membangun pengaruh melalui kekuasaan, tetapi melalui pendidikan. Dayah dijadikannya sebagai tempat melahirkan generasi yang menjaga akidah, memperkokoh akhlak, dan mengabdikan ilmu kepada masyarakat. Dari sanalah lahir para ulama, pendidik, pemimpin masyarakat, dan tokoh-tokoh yang mewarnai kehidupan Aceh hingga hari ini.


Maka, membicarakan santri dan politik sesungguhnya bukan membicarakan perebutan jabatan. Yang lebih penting adalah membicarakan bagaimana pesantren membentuk manusia yang kelak mengelola kekuasaan dengan amanah. Sebab politik tanpa akhlak hanya akan melahirkan pertarungan kepentingan, sedangkan politik yang lahir dari rahim pesantren memiliki peluang untuk menghadirkan keadilan, persaudaraan, dan kemaslahatan.


Dari sinilah kita memahami bahwa perjalanan menuju peradaban tidak dimulai dari istana, tetapi dari ruang-ruang pendidikan. Tidak dimulai dari kekuasaan, tetapi dari kitab yang dibaca dengan adab, guru yang dihormati dengan takzim, dan ilmu yang diamalkan dengan ikhlas. Pesantren tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi menyiapkan penjaga peradaban.

Newest Older

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter